| Tugas untuk memperhatikan lingkungan hidup. Di sebuah kampung di pinggir pantai…. Para penduduknya mempunyai cara tersendiri untuk menangkap ikan. Caranya sangat sederhana… dan mungkin dianggap tradisional banget. Tapi dibalik ketradisionalannya… mengandung makna yang sangat mendalam. Ketika air laut lagi surut…. Orang orang di kampung tersebut… meletakkan batu batu besar secara melingkar dengan harapan ketika laut pasang akan ada ikan yang berenang disekitar batu batu tersebut. Dan setelah air laut surut kembali… maka akan ada beberapa ikan yang terperangkap di lingkaran batu itu. Setiap hari orang orang di kampung itu melakukan aktivitas tersebut untuk memenuhi kebutuhannya sehari hari. Tidak banyak memang ikan yang diperolehnya… tetapi mereka puas dan bisa mencukupi kebutuhan setiap harinya. Setiap orang hanya membuat satu lingkaran batu, dan ikan yang terperangkap rata rata setiap harinya hanya 2-5 ekor. Jika mereka ditanya kenapa masih mempertahankan cara yang tradisional seperti itu…, kenapa tidak menggunakan jaring, sehingga ikan yang diperolehnya bisa lebih banyak. Mereka akan bilang… bahwa dengan cara itulah mereka akan tetap menjaga kelangsungan kehidupan, dengan mengambil secukupnya… maka laut akan tetap terjaga dan akan selalu menyediakan ikan untuk generasi generasi berikutnya. Seorang Petani (sebut saja pak nono) yang sudah berusia senja dengan penuh semangat dan riang membajak sawahnya dengan menggunakan cara tradisional (membajak sawahnya dengan menggunakan sapi). Sesekali pak nono ini berhenti sejenak untuk mengarit rumput di ujung sawah untuk diberikan kepada sapinya. Sambil mengunyah.. sapi ini terus berputar-putar di sawah sesuai dengan kendali pak nono… sesekali sapinya mengeluarkan kotoran yang kemudian ikut tercampur dalam tanah sawah itu. Ketika pak nono ditanya kenapa membajak sawahnya kok masih pake’ cara tradisional? Kan sudah ada traktor yang lebih modern dan lebih canggih? Pak nono bilang… kata siapa menggunakan sapi itu tradisional? Justru itu yang lebih canggih…, justru itu yang modern…, justru itu yang ramah lingkungan. Pak nono terus berkomentar… saya akan tetap menggunakan sapi.., bahan bakarnya banyak didapat dari sekitar sawah (rumput dan berbagai sisa hasil pertanian)…, kotoran dan kencingnya secara alami akan menjadi pupuk yang bermanfaat untuk mempertahankan kesuburan tanah. Harga sapi seiring waktu akan tambah mahal apalagi jika kemudian beranak. Sapi sapi bisa terus beregenerasi, tidak perlu membeli suku cadang….Dan yang paling penting adalah tidak mencemari lingkungan. Pak Dar seorang petani kampung yang tetap eksis… beliau selalu membuat bibit sendiri untuk pertaniannya. Setiap panen beliau selalu menyeleksi beberapa hasil panennya untuk kemudian ditanamnya kembali. Sehingga semakin lama… seiring berjalannya waktu… hasil panen pak Dar selalu memuaskan.. karena apa yang ditanamnya merupakan bibit bibit yang terseleksi dari hasil panennya sendiri. Sementara banyak petani lainnya yang tidak sabar dan mungkin terpengaruh oleh iklan iklan dari pabrik pabrik bibit…. Bahwa bibit bibit yang dijualnya adalah hasil dari teknologi canggih yang merupakan hasil rekayasa genetika. Akibatnya banyak para petani lainnya menjadi tergantung pada bibit bibit buatan pabrik/industri…. Yang kadangkala bibit bibit itu memang sengaja dibuat menjadi infertile (artinya bibit itu ketika ditanam dan menghasilkan panen… dan kemudian jika ditanam kembali maka tidak akan tumbuh)… sehingga petani harus terus membeli dan membeli. Selain itu…. karena direkayasa…, maka hasil panennya akan memberikan resiko jangka panjang jika kemudian dikonsumsi oleh manusia karena hasil panennya itu dikenal dengan istilah GMO (Genetically Modified Organisme). Pak Dar juga menggunakan kotoran kambing untuk memupuk tanaman tanamannya. Karena pak Dar meyakini bahwa alam telah menyediakan semuanya termasuk pupuk pupuk tanaman. Dengan sabar dan telaten pak Dar mengolah tanah sawahnya dengan menggunakan kotoran kambing. Kotoran ternak yang kemudian bercampur dengan tanah kaya akan microflora yang mampu memproduksi antibiotics, vitamin, hormon dan macam macam senyawa biogenic…. sehingga tanah menjadi sehat dan subur dan tanaman menjadi tumbuh dengan baik. Sehingga semakin lama, tanah sawahnya semakin berkualitas dan semakin baik untuk keberlangsungan usaha pertaniannya. Sementara petani lainnya… karena kurang sabar… selalu mau cepat, dan juga terpengaruh oleh promosi dari pabrik pupuk…, para petani lainnya menggunakan pupuk pupuk kimia. Sehingga semakin lama.. tanah sawahnya semakin mengeras dan semakin buruk kualitasnya… sehingga menjadi kurang baik untuk keberlangsungan tanah pertaniannya. Sepintas… penggunaan pupuk pupuk kimia dianggap maju/canggih… tapi secara jangka panjang justru akan merusak kondidi tanah. Pak Kyai pernah bilang pada santrinya…. bahwa sebenarnya ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh siapa saja… bukan semata mats untuk melahirkan teknologi. Tetapi ilmu pengetahuan yang kita pelajari adalah untuk melahirkan pemahaman dan kesadaran akan maksud dari penciptaan. Hidup di jaman sekarang ini seringkali kita terlena oleh teknologi, seringkali kita jugs menjadi korban teknologi. seharusnya semakin orang berpengetahuan… semakin orang berilmu… diharapkan semakin sadar untuk hidup selaras dengan alam dan selaras dengan kehendak Pencipta. Tapi seringkali… pengetahuan justru banyak digunakan untuk kemudian melawan alam dan merekayasa alam. Alam adalah sesuatu yang harus dinikmati keindahannya, keharmonisannya, makna hakikinya. Maka kita diharapkan untuk selalu peduli, selalu memperhatikan ekosistem yang ada di sekitar kita. Untuk peduli pada keseimbangan dan kelestarian dr kehidupan bagi semua makhluk dialam semesta ini. Wallahu a’lam 🙏🙏🙏 PSIS |





