MIU Login

Tugas untuk Berupaya Selaras Dengan Alam – Renungan Jum’at

Disebuah kampung, ada seorang Pak Kyai.. sudah sepuh yang hidupnya sederhana.. unik…  perilaku dan pikiran pikirannya menarik untuk  dikaji lebih lanjut khususnya berkaitan dengan kehidupan yang selaras dengan alam.

Suatu ketika seorang santri bertanya…. “Pak Kyai…. kenapa dijaman yang sudah modern sekarang ini…. panjenengan dan keluarga… kok masih minum dengan menggunakan gelas yang terbuat dari bambu….”.

Pak Kyai bilang….. “Bambu dibelakang rumah kan banyak…. perlu dimanfaatkan… ditebang seperlunya… dan nanti akan tumbuh tunas baru. Gelas dari bambu ini sangat awet, murah, fungsional, tahan panas, airnya menjadi lebih segar, jika gelas ini jatuh.. belum tentu pecah. Gelas ini alami. Jika rusak atau sudah bosan… dan dibuang ke alam… maka gelas ini akan cepat diurai oleh alam (jadi tidak menjadi sampah)”.

“Menggunakan gelas dari bambu…. akan mengurangi penggunaan gelas dari kaca, keramik ataupun plastik, dan juga akan mengurangi produksinya. Pada proses pembuatan gelas kaca pasti melibatkan beberapa zat kimia seperti sodium karbonat dan lain lain… dan membutuhkan suhu tinggi. Pada pembuatan plastik dan keramik juga begitu. Dan yang pasti akan menimbulkan limbah pada proses pembuatan gelas kaca/plastik”.

Pak Kyai bilang bahwa…. menggunakan gelas dari bambu merupakan  bagian dari upaya untuk sedikit mengerem laju  kerusakan  alam.

*

Tidak saja menggunakan gelas dari bambu…, piring yang digunakan juga terbuat dari anyaman bambu dan diberi alas daun pisang. Daun pisang yang telah digunakan kemudian diberikan kepada kambing yang berada dibelakang rumahnya. Pohon pisangnya selalu muncul tunas baru yang menghasilkan buah dan daunnya dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

Menurut pak kyai…, ini juga untuk mengurangi produksi piring dari keramik… yang pembuatannya butuh suhu tinggi, yang berarti pemborosan energi. Dan harganya pasti lebih mahal karena butuh peralatan sedemikian rupa, dan dalam proses pembuatannya pasti akan menghasilkan limbah yang pada akhirnya memperburuk kualitas alam.

*

Rumah pak kyai juga terbuat dari bambu…, sedikit menggunakan batu bata dan semen. Hanya bagian bawah dan lantai yang menggunakan batu bata dan semen.

Beliau bilang… banyaknya bangunan yang terbuat dari semen dan terus muncul bangunan baru yang membutuhkan semen… akan semakin mengekploitasi alam…, pabrik semen akan terus mengeruk bahan untuk membuat semen. Gersik sudah diekploitasi sedemikian rupa sehingga alamnya menjadi rusak…. sekarang pindah ke Tuban untuk mengeruk bahan pembuatan semen. Pasir, batu juga ditambang dimana mana untuk bahan bangunan, sehingga pasti akan terus menurunkan kualitas alam.

*

Membajak sawahnya selalu menggunakan kerbau…, menurut beliau… ketika kerbaunya membajak sawah, kemudian kerbaunya nlethong…, maka tlethongnya bukan menjadi masalah justru memberi manfaat. Ketika kerbaunya lapar disela sela membajak… kerbau itu kemudian  merumput dipinggiran sawah. Beliau tidak mau menggunakan traktor…, traktor menimbulkan asap… maka mencemari udara disekitar sawah.., jika olinya netes maka menjadi masalah…, jika kemudian traktornya lapar (bensinnya habis), maka harus beli bensin… dan ini pemborosan.

Kerbau bisa regenerasi secara alami…, tapi traktor jika sudah rusak maka diperlukan onderdil baru…, yang kemudian terus diproduksi… yang bahannya pasti dengan cara eksploitasi alam… dan pabriknya pasti menimbulkan polusi dan limbah.

*

Banyak hal lainnya yang dilakukan oleh pak kyai… dengan prinsip selaras dengan alam yang mungkin SANGAT SUSAH UNTUK DICONTOH… apalagi bagi kita kita yang hidup dikota kota dengan paradigma seperti sekarang ini yang maunya selalu instan.

Tetapi SEMANGAT dan POLA PIKIRnya mungkin bisa menjadi INSPIRASI…

Pak Kyai pernah bilang bahwa…. “alam tidak pernah memproduksi sampah, artinya semua yang diproduksi alam pasti merupakan sebuah siklus yang sangat canggih yang juga akan kembali kepada alam dan memberi manfaat bagi kehidupan”.

“Manusialah yang memproduksi sampah, teknologi buatan manusialah yang memproduksi sampah”. “ketika sebuah teknologi menghasilkan sampah… maka pasti ada yang kurang pas dari konsep teknologi tersebut”.

Menurut pak Kyai…. “bahwa ilmu pengetahuan yang kita pelajari sebenarnya bukan semata mata untuk menghasilkan teknologi…, tetapi ilmu pengetahuan yang kita pelajari adalah untuk memahami konsep penciptaan, untuk memahami petunjukNYA, sehingga kemudian melahirkan kesadaran untuk menjalani kehidupan yang selaras dengan alam.., jikapun menghasilkan teknologi.. teknologi yg menyelamatkan bagi semua.

Seorang santri nyeletuk…. “jika tidak menghasilkan teknologi… maka kita tidak akan maju pak Kyai”.

Pak Kyai kemudian bilang “kemajuan yg sebenarnya adalah  kemajuan yang tdk melahirkan keserakahan, yang tidak melahirkan ambisi untuk menguasai, yang tidak menciptakan kerusakan, yg tidak mengeruk dan mengeksploitasi alam, yang tidak menciptakan kemiskinan, yang tidak melahirkan kemunafikan”.

Wallahu a’lam

PSIS.

Berita Terkait