MIU Login

Tugas untuk melaksanakan petunjuk-NYA -Renungan Jum’at

Beberapa santri (di pesantren kecil disebuah kampung) sedang asyik diskusi di langgar yang bersebelahan dengan rumah pak kyai. Para santri berdiskusi tentang keadaan kampung sebelah, yang sepertinya dari dulu kurang mengalami perubahan kearah yang lebih baik. Baik itu tentang pendidikannya, ekonominya, keadaan sosial politiknya.   Seorang santri bilang bahwa… kenapa dari dulu sampai sekarang keadaan penduduknya rata-rata tetap begitu-begitu saja, penduduknya sepertinya kesulitan untuk dapat meningkatkan taraf hidupnya? (hanya sebagian kecil yang menguasai ekonomi)…., Padahal penduduk disini kelihatan tidak terlalu neko-neko, waktunya sholat…mereka sholat, waktunya puasa… mereka puasa, waktunya sholat jum’at… mereka sholat jum’at.   Santri yang lain bilang… padahal janji Allah bahwa: “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS al-a’raf:96).   Jangan-jangan kita ini belum beriman? Sehingga berkah tidak turun.   Santri lain nyeletuk, bisa jadi kita ini beriman, tetapi beriman hanya sekedarnya. Hanya sekedar menjalankan rukunnya. Yang penting bersahadat, sholat, puasa, zakat, kalau punya uang melaksanakan haji.   Kemudian santri lain bilang bahwa, mungkin kita ini belum banyak melaksanakan petunjuk yang sudah diturunkan kepada kita. Coba…, kalau kita hitung-hitung…, hanya berapa persen dari Kitab suci yang telah kita implementasikan. Sebenarnya tugas kitalah untuk bisa menggerakkan masyarakat untuk melakukan yang lebih dari itu. Kita sebagai santri sering membaca Al-Qur’an, dan kita sedikit lebih paham, seharusnya kita menggerakkan masyarakat untuk sedikit demi sedikit mengamalkan apa yang ada dalam Al-Qur’an itu.   Di dalam rumahnya, pak kyai dengan serius mendengarkan diskusi para santrinya. Pak kyai merasa bahwa santrinya telah mulai paham akan apa yang harus dilakukan, kemudian pak kyai keluar dari rumahnya menuju langgar tempat santri diskusi.   Para santri terdiam, kemudian pak kyai bercerita tentang seorang pendaki gunung. Bahwa suatu waktu ada seorang yang ingin menaklukkan gunung yang sangat tinggi. Orang ini punya obsesi untuk berada dipuncak gunung itu. Dengan berbekal peralatan dia mulai mendaki gunung tersebut.   Belum sampai puncak, karena cuaca tidak mendukung…angin begitu kencang…., kabut sangat tebal menyelimuti gunung itu, sehingga mengganggu pandangan mata. Si pendaki gunung dengan hati-hati terus melangkah. Tetapi karena angin begitu kencangnya, dan si pendaki gunung tidak terlalu jelas melihat kanan kiri (karena kabut sedemikan tebalnya)…, kakinya tergelincir… dan jatuhlah dia pada lembah/jurang yang kelihatannya sangat curam.   Untung, si pendaki gunung menggunakan pengaman tali dipinggangnya. Dia tidak terjatuh pada dasar jurang…tetapi dia bergantungan pada tali dipinggangnya.   Kabut sangat tebal, keadaan sekitarnya sangat gelap gulita…, si pendaki tidak bisa melihat keadaan sekitarnya. Disaat seperti inilah kemudian sipendaki hanya pasrah kepada Tuhannya. Dia memohon untuk mendapatkan pertolongan, dia berdo’a agar selamat, dia berharap ada petunjuk agar bisa selamat.   Karena lelah, menahan rasa sakit pada pinggangnya dia tertidur pulas. Dalam tidurnya dia mendapatkan petunjuk bahwa agar selamat…, dia harus memotong tali dipinggangnya.   Si pendaki tidak yakin pada petunjuk itu, dia berpikir jangan-jangan kalau talinya dipotong…dia akan terjun bebas ke dasar jurang yang berbatu, dia takut kepalanya terbentur batu.   Si pendaki terus berdo’a minta petunjuk agar selamat…. Sipendaki menahan rasa sakit, menahan rasa lapar, menahan rasa haus, akhirnya si pendaki tertidur lagi. Dalam tidurnya dia mendapatkan petunjuk lagi (bermimpi)…. bahwa agar selamat maka tali dipinggangnya harus dipotong.   Si pendaki tetap ragu, dia merasa bahwa kalau talinya dipotong…j ustru dia akan mati, Kepalanya akan terbentur batu didasar jurang.   Dia, tidak tahu sudah berapa lama tergantung ditali, karena waktu siang dan malam tidak dapat dibedakan saking tebalnya kabut menyelimuti. Dia tertidur lagi menahan rasa sakit dan lapar…., kemudian dia bermimpi lagi mendapatkan petunjuk  untuk memotong tali yang terikat dipinggangnya.   Si Pendaki tetap tidak yakin akan petunjuk itu…., dan pada akhirnya si pendaki menghembuskan nafas terakhirnya sambil tergantung.   Pak Kyai terus bercerita…., Beberapa waktu kemudian… setelah kabut tidak menyelimuti lagi… beberapa penduduk setempat menemukan jenasah pendaki tadi bergantung kurang lebih 50 cm diatas tanah.   Menurut pak kyai, seandainya pendaki itu, mengikuti petunjuk untuk memotong tali… maka kemungkinan besar dia akan selamat. Karena hanya berjarak 50 cm dari permukaan tanah.   Pak Kyai kemudian bilang pada santrinya…. bahwa kita umumnya sama seperti pendaki itu. Walaupun petunjuknya sudah jelas… kita masih ragu, bahkan tidak percaya, seingga kita tidak berupaya untuk mengamalkan apa yang tertera dalam petunjuk itu (Al-Qur’an).   Pak Kyai bilang…., berapa persen dari isi Al-Qur’an yang suda kita amalkan,  mungkin baru  tiga atau empat ayat dari petunjukNya…, seandainya kita melaksanakan 100 persen ayat atau 50 persennya saja, atau 30 persen saja mungkin berkah dari langit dan bumi akan turun untuk kita yang hidup di dunia ini.   Pak Kyai bilang, mungkin kita sekarang ini masih kurang dari 5 % yang kita laksanakan dari petunjukNya.   Bahwa umat Islam akan unggul jika selalu melaksanakan petunjukNYA.   Petunjuk untuk menjalani kehidupan, sehingga memperoleh kehidupan yang baik,  tidak saja untuk dirinya sendiri tetapi untuk seluruh ciptaan yang ada dialam semesta ini.  
Wallahu a’lam… 🙏🙏🙏 PSIS

Berita Terkait