{"id":1177,"date":"2024-08-02T05:24:50","date_gmt":"2024-08-02T05:24:50","guid":{"rendered":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/?p=1177"},"modified":"2024-08-02T05:24:50","modified_gmt":"2024-08-02T05:24:50","slug":"tugas-untuk-melaksanakan-petunjuk-nya-renungan-jumat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/en\/tugas-untuk-melaksanakan-petunjuk-nya-renungan-jumat\/","title":{"rendered":"Tugas untuk melaksanakan petunjuk-NYA -Renungan Jum&#8217;at"},"content":{"rendered":"<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td>Beberapa santri (di pesantren kecil disebuah kampung) sedang asyik diskusi di langgar yang bersebelahan dengan rumah pak kyai. Para santri berdiskusi tentang keadaan kampung sebelah, yang sepertinya dari dulu kurang mengalami perubahan kearah yang lebih baik. Baik itu tentang pendidikannya, ekonominya, keadaan sosial politiknya. \u00a0 Seorang santri bilang bahwa\u2026 kenapa dari dulu sampai sekarang keadaan penduduknya rata-rata tetap begitu-begitu saja, penduduknya sepertinya kesulitan untuk dapat meningkatkan taraf hidupnya? (hanya sebagian kecil yang menguasai ekonomi)\u2026., Padahal penduduk disini kelihatan tidak terlalu neko-neko, waktunya sholat\u2026mereka sholat, waktunya puasa\u2026 mereka puasa, waktunya sholat jum\u2019at\u2026 mereka sholat jum\u2019at. \u00a0 Santri yang lain bilang\u2026 padahal janji Allah bahwa: \u201cJika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.\u201d (QS al-a\u2019raf:96). \u00a0 Jangan-jangan kita ini belum beriman? Sehingga berkah tidak turun. \u00a0 Santri lain nyeletuk, bisa jadi kita ini beriman, tetapi beriman hanya sekedarnya. Hanya sekedar menjalankan rukunnya. Yang penting bersahadat, sholat, puasa, zakat, kalau punya uang melaksanakan haji. \u00a0 Kemudian santri lain bilang bahwa, mungkin kita ini belum banyak melaksanakan petunjuk yang sudah diturunkan kepada kita. Coba\u2026, kalau kita hitung-hitung\u2026, hanya berapa persen dari Kitab suci yang telah kita implementasikan. Sebenarnya tugas kitalah untuk bisa menggerakkan masyarakat untuk melakukan yang lebih dari itu. Kita sebagai santri sering membaca Al-Qur\u2019an, dan kita sedikit lebih paham, seharusnya kita menggerakkan masyarakat untuk sedikit demi sedikit mengamalkan apa yang ada dalam Al-Qur\u2019an itu. \u00a0 Di dalam rumahnya, pak kyai dengan serius mendengarkan diskusi para santrinya. Pak kyai merasa bahwa santrinya telah mulai paham akan apa yang harus dilakukan, kemudian pak kyai keluar dari rumahnya menuju langgar tempat santri diskusi. \u00a0 Para santri terdiam, kemudian pak kyai bercerita tentang seorang pendaki gunung. Bahwa suatu waktu ada seorang yang ingin menaklukkan gunung yang sangat tinggi. Orang ini punya obsesi untuk berada dipuncak gunung itu. Dengan berbekal peralatan dia mulai mendaki gunung tersebut. \u00a0 Belum sampai puncak, karena cuaca tidak mendukung\u2026angin begitu kencang\u2026., kabut sangat tebal menyelimuti gunung itu, sehingga mengganggu pandangan mata. Si pendaki gunung dengan hati-hati terus melangkah. Tetapi karena angin begitu kencangnya, dan si pendaki gunung tidak terlalu jelas melihat kanan kiri (karena kabut sedemikan tebalnya)\u2026, kakinya tergelincir\u2026 dan jatuhlah dia pada lembah\/jurang yang kelihatannya sangat curam. \u00a0 Untung, si pendaki gunung menggunakan pengaman tali dipinggangnya. Dia tidak terjatuh pada dasar jurang\u2026tetapi dia bergantungan pada tali dipinggangnya. \u00a0 Kabut sangat tebal, keadaan sekitarnya sangat gelap gulita\u2026, si pendaki tidak bisa melihat keadaan sekitarnya. Disaat seperti inilah kemudian sipendaki hanya pasrah kepada Tuhannya. Dia memohon untuk mendapatkan pertolongan, dia berdo\u2019a agar selamat, dia berharap ada petunjuk agar bisa selamat. \u00a0 Karena lelah, menahan rasa sakit pada pinggangnya dia tertidur pulas. Dalam tidurnya dia mendapatkan petunjuk bahwa agar selamat\u2026, dia harus memotong tali dipinggangnya. \u00a0 Si pendaki tidak yakin pada petunjuk itu, dia berpikir jangan-jangan kalau talinya dipotong\u2026dia akan terjun bebas ke dasar jurang yang berbatu, dia takut kepalanya terbentur batu. \u00a0 Si pendaki terus berdo\u2019a minta petunjuk agar selamat\u2026. Sipendaki menahan rasa sakit, menahan rasa lapar, menahan rasa haus, akhirnya si pendaki tertidur lagi. Dalam tidurnya dia mendapatkan petunjuk lagi (bermimpi)\u2026. bahwa agar selamat maka tali dipinggangnya harus dipotong. \u00a0 Si pendaki tetap ragu, dia merasa bahwa kalau talinya dipotong\u2026j ustru dia akan mati, Kepalanya akan terbentur batu didasar jurang. \u00a0 Dia, tidak tahu sudah berapa lama tergantung ditali, karena waktu siang dan malam tidak dapat dibedakan saking tebalnya kabut menyelimuti. Dia tertidur lagi menahan rasa sakit dan lapar\u2026., kemudian dia bermimpi lagi mendapatkan petunjuk\u00a0 untuk memotong tali yang terikat dipinggangnya. \u00a0 Si Pendaki tetap tidak yakin akan petunjuk itu\u2026., dan pada akhirnya si pendaki menghembuskan nafas terakhirnya sambil tergantung. \u00a0 Pak Kyai terus bercerita\u2026., Beberapa waktu kemudian\u2026 setelah kabut tidak menyelimuti lagi\u2026 beberapa penduduk setempat menemukan jenasah pendaki tadi bergantung kurang lebih 50 cm diatas tanah. \u00a0 Menurut pak kyai, seandainya pendaki itu, mengikuti petunjuk untuk memotong tali\u2026 maka kemungkinan besar dia akan selamat. Karena hanya berjarak 50 cm dari permukaan tanah. \u00a0 Pak Kyai kemudian bilang pada santrinya\u2026. bahwa kita umumnya sama seperti pendaki itu. Walaupun petunjuknya sudah jelas\u2026 kita masih ragu, bahkan tidak percaya, seingga kita tidak berupaya untuk mengamalkan apa yang tertera dalam petunjuk itu (Al-Qur\u2019an). \u00a0 Pak Kyai bilang\u2026., berapa persen dari isi Al-Qur\u2019an yang suda kita amalkan,\u00a0 mungkin baru\u00a0 tiga atau empat ayat dari petunjukNya\u2026, seandainya kita melaksanakan 100 persen ayat atau 50 persennya saja, atau 30 persen saja mungkin berkah dari langit dan bumi akan turun untuk kita yang hidup di dunia ini. \u00a0 Pak Kyai bilang, mungkin kita sekarang ini masih kurang dari 5 % yang kita laksanakan dari petunjukNya. \u00a0 Bahwa umat Islam akan unggul jika selalu melaksanakan petunjukNYA. \u00a0 Petunjuk untuk menjalani kehidupan, sehingga memperoleh kehidupan yang baik,\u00a0 tidak saja untuk dirinya sendiri tetapi untuk seluruh ciptaan yang ada dialam semesta ini. \u00a0 <br>Wallahu a\u2019lam\u2026 \ud83d\ude4f\ud83d\ude4f\ud83d\ude4f PSIS<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa santri (di pesantren kecil disebuah kampung) sedang asyik diskusi di langgar yang bersebelahan dengan rumah pak kyai. Para santri berdiskusi tentang keadaan kampung sebelah, yang sepertinya dari dulu kurang mengalami perubahan kearah yang lebih baik. Baik itu tentang pendidikannya, ekonominya, keadaan sosial politiknya. \u00a0 Seorang santri bilang bahwa\u2026 kenapa dari dulu sampai sekarang keadaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1178,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[46],"tags":[],"class_list":["post-1177","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1177","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1177"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1177\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1178"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1177"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1177"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1177"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}