MIU Login

Tugas menjadi pelayan-Renungan Jum’at

Tugas menjadi pelayan

Suatu ketika pak kyai bercerita pada santrinya… cerita tentang   dua kepompong yang lagi mendiskusikan masa depannya.

Kepompong A bilang:

“menurut berita yang kudengar, hidup bebas di dunia sana sangat keras, panas, dan mengerikan. Setelah aku jadi kupu-kupu… pasti aku akan menjadi santapan burung, mungkin juga pasti aku akan menjadi permainan dari tangan-tangan manusia, atau mungkin aku akan diberi formalin agar aku tetap awet, atau mungkin aku akan dijadikan pajangan dinding dirumah-rumah manusia, atau aku mungkin akan menjadi hiasan pada dompetnya manusia, atau mungkin aku akan jadi bahan penelitian. Aku jelas akan dijamah oleh tangan-tangan manusia yang akan memanfaatkanku”.

Kepompong B penasaran, apa arah pembicaraan kepompong A. Kepompong B kemudian bertanya? “Terus apa yang akan kamu lakukan ?”

Kemudian kepompong A bilang “aku akan tetap menjadi kepompong, aku akan berusaha untuk tetap menjadi kepompong selama mungkin. Dengan tetap menjadi kepompong dan bersembunyi dibalik daun-daun yang pohonnya tinggi, aku akan aman. Aku akan aman dari santapan burung, aku akan aman dari tangan tangan manusia, aku akan aman dari menjadi pajangan dirumah-rumah manusia”.

Kepompong B semakin penasaran terhadap rencana kepompong A. Kemudian kepompong B bilang: Kalau kamu hanya mencukupkan diri menjadi kepompong, terus bersembunyi dibalik daun-daun…., terus apa yang kamu berikan dalam kehidupan ini. Ingat….,selama kita menjadi ulat… aktivitas kita hanya makan dan makan. Kita selalu menjadi parasit, kita selalu mengambil. Banyak  Dedaunan berlubang-lubang dan menjadi rusak akibat ulah kita. Selama menjadi ulat kita sering merugikan pihak lain. Selama menjadi ulat, kita betul-betul hedonis yang hanya bertujuan menyenangkan diri sendiri tanpa mengindahkan kepentingan pihak lain. Menjadi parasit, mengeksploitasi pihak lain tanpa memberi timbal balik.

Kepompong A termenung, sepertinya berpikir ulang terhadap rencananya yang akan tetap bertahan menjadi kepompong.

Kemudian kepompong B bilang: kalau aku sih… aku akan memanfaatkan kesempatan untuk menjadi kupu-kupu. Yang akan aku lalukan…apabila aku keluar dari tempat pompongku…aku akan segera mencari bunga untuk kubantu penyerbukannya. Aku akan terus pindah dari bunga yang satu ke bunga yang lain untuk membantu bunga melakukan penyerbukan.

Kepompong B terus bilang: Aku ingin hidupku bermakna… aku akan menari-nari didepan manusia, agar manusia senang dan menikmati keindahanku. Aku akan ikhlaskan kehidupanku seandainya ada manusia yang kemudian tertarik padaku, sehingga aku diawetkan dan menjadi pajangan dirumahnya… aku ikhlas/aku bahagia…ini berarti bahwa hidupkan punya arti bagi orang lain.

Kemudian kepompong A menyela perkataan kepompong B. Kepompong A bilang… bahwa kamu akan mati, kamu akan direndam diformalin, kamu akan ditempel di hiasan dinding, didompet, atau mungkin baru keluar dari pompongmu…kamu langsung disantap oleh burung.

Kepompong B bilang…. Kita ini memang akan mati, semua akan mati, kamu meskipun tetap bertahan menjadi kepompong…kamu akan tetap mati, kamu justru akan mati, tanpa pernah merasakan menjadi kupu-kupu yang sebenarnya bisa berbuat banyak untuk orang lain.

Kepompong B terus menceramahi kepompong A, Kepompong B bilang… aku akan mati, tetapi aku puas dengan kematianku nanti, karena aku telah banyak membantu penyerbukan bunga-bunga, aku akan puas karena aku dapat menunjukkan keindahanku pada manusia, aku juga  puas.. selalu dinikmati oleh banyak manusia yang melihat keindahanku di hisan-hiasan dinding. Aku akan puas karena keindahanku dapat menghiasi kehidupan manusia. Aku puas.. mati sebagai takdir menjadi kupu-kupu. Aku puas… selama hidupku aku dapat memberi manfaat nyata bagi dunia.

Pak Kyai kemudian bilang pada santrinya, bahwa banyak  dari kita yg  seperti kepompong A, inginnya aman, selalu khawatir untuk melangkah, selalu waswas untuk bergerak pada dunia yang lebih luas, selalu ingin mempertahankan status quo, selalu takut pada resiko, terkungkung dengan birokrasi, berpikir hanya dalam kotak.

Menurut pak kyai, bahwa kita mempunyai potensi yang luar biasa untuk ikut berkontribusi dalam mewujudkan harmonisasi alam/melayani alam. Kita ini mampu untuk berbuat yang lebih besar lagi, mewujudkan kehidupan yang lebih baik dari kehidupan semua elemen pengisi alam semesta ini.

Wallahu a’lam

🙏🙏🙏 PSIS

Berita Terkait