MIU Login

Tugas Menjaga Rantai Makanan (Cerita si Capung dan si Nyamuk)-Renungan Jum’at

Suatu ketika Pak kyai mengamati ada seekor capung sedang menangkap seekor nyamuk dihalaman rumahnya. Si Capung itu hinggap di dahan dekat pak kyai berdiri. Karena si Capung melihat pak kyai, si Capung merasa malu untuk melahap si nyamuk, separuh tubuh nyamuk masih berada di mulut si capung. Si Nyamuk  itu  meronta-ronta dan merintih-rintih dan berharap pak kyai menolongnya untuk dapat  melepaskan diri dari mulut si Capung. Pak Kyai melihat peristiwa itu hanya manggut-manggut.

Si Capung kaget melihat pak kyai manggut-manggut, sehingga si capung melepaskan sinyamuk dari mulutnya. Si capung merasa pak kyai tidak senang terhadap perbuatannya memangsa si nyamuk. Si Capung penasaran.. kenapa pak kyai tidak setuju terhadap perbuatannya, padahal apa yang dilakukan si Capung sudah merupakan hukum alam, bahwa capung makan nyamuk. Merasa penasaran si Capung bertanya kepada pak kyai apakah benar  makna manggut-manggutnya tadi bermakna tidak menyetujui perbuatannya untuk memangsa si nyamuk. Apakah benar makna manggut-manggutnya setuju terhadap rontahan SI nyamuk untuk melepaskan diri dari mulut capung.

Pak Kyai bilang pada si capung, bahwa manggut-manggutnya adalah isyarat agar capung melahap nyamuk itu. Merasa telah salah menduga, si capung meminta maaf pada pak kyai, dan kemudian terbang meninggalkan pak kyai. Sinyamuk kemudian mendekat pada pak kyai untuk menanyakan juga apakah manggut-manggutnya itu bermakna menyetujui usaha nyamuk untuk melepaskan diri dari mulut capung. Pak Kyai bilang manggut-manggutnya itu isyarat agar capung melepaskan nyamuk dari mulutnya. Si Nyamuk merasa telah ditolong oleh pak kyaI,  si nyamuk kemudian berterimakasih pada pak kyai, dan terbang dengan rasa gembira.

Ternyata dialog pak kyai dengan capung, dialog pak kyai dengan nyamuk didengar oleh banyak telinga disekitar lingkungan tempat pak kyai tinggal. Mereka penasaran atas jawaban pak kyai pada capung dan jawaban pak kyai pada nyamuk. Mereka harus bertanya kepada pak kyai, karena jawaban pak kyai itu sangat penting berkaitan dengan hukum alam, berkaitan dengan keseimbangan ekosistem, berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan yang harmonis. Ketika sampai ditempat pak kyai, sebelum meraka bertanya,  pak kyai duluan memberikan penjelasan. Bahwa apa yang dilakukan capung terhadap nyamuk memang itu yang seharusnya terjadi, bahwa capung dan nyamuk harus berikhtiar menentukan nasib masing-masing.

Hukum alam ditentukan oleh Allah bukan oleh ikhtiar atau kehendak kita. Takdir ditentukan oleh Allah. Apabila Allah menakdirkan si nyamuk itu hidup, maka capung tidak akan kuasa untuk memangsanya. Dan apabila Allah menakdirkan sinyamuk dimakan capung, maka si capung tidak akan kuasa melepaskan sinyamuk. Menurut pak kyai, setiap makhluk wajib berikhtiar, karena dengan berikhtiar itulah makhluk bisa mengetahui takdirnya. Inilah hukum alam atau sunnatullah.

Dengan hukum alam inilah keseimbangan ekosistem dipelihara. Ekosistem akan terpelihara jika masing-masing tidak berlebih lebihan (tidak serakah). Pemakan tumbuhan/herbivora tidak berlebih-lebihan memakan tumbuhan. Pemangsa hewan lainnya/carnivora tidak berlebih lebihan dalam memangsa. Manusia tidak berlebih lebihan… memakan yang seharusnya di makan.

Teknologi yang berkembang, teknologi apa saja, seharusnya bukan teknologi yang dapat memutus rantai makanan. Pengetahuan yang berkembang seharusnya pengetahuan yang dapat melestarikan alam dan keseimbangan ekosistem. Sehingga teknologi yang dikembangkan adalah teknologi yang tetap menjaga keberlangsungan kehidupan bagi seluruh makhluk yang ada di alam ini.

Pak Kyai bilang bahwa Allah telah mencukupkan rizqi untuk semua makhluknya. Alam ini sudah disediakan oleh Allah untuk mencukupi semua kebutuhan makhluknya. Jikalau tidak ada yang serakah, tidak ada yang berlebih lebihan, maka kehidupan akan terus berlangsung secara harmonis. Ketika capung memakan nyamuk, itu adalah sunnatullah. Memang capung dan nyamuk ada dalam rantai makanan. Tetapi ketika manusia memakan yang bukan dalam sunnatullah, bukan dalam rantai makanan (serakah maksudnya) maka keseimbangan akan rusak.

Sumber daya alam dikuras habis-habisan, menguras tambang emas, menguras batu bara, menguras minyak dan lainnya, tanpa memikirkan apa yang harus di kembalikan kepada alam. Bumi semakin keropos/ompong karena telah dikuras isinya. Pohon banyak ditebangi dan tidak seimbang dengan usaha untuk menanaminya kembali, sehingga menyebabkan ketersediaan air semakin menipis, sehingga bumi semakin panas… pencemaran udara semakin tidak cukup dinetralisir. Pak Kyai kemudian membaca Al-Qur’an Surat Ar Ruum ayat 41 : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Menurut Pak Kyai, kita mempunyai kewajiban untuk meningkatkan kemakmuran, tidak hanya kemakmuran manusia tetapi juga kemakmuran alam. Kita harus ikut menjaga alam ini. Kita harus menjaga bumi ini dalam rangka mendukung keberlangsungan kehidupan masa sekarang dan masa yang akan datang. Kita harus menjaga rantai makanan, menjaga rantai kehidupan, menjaga keseimbangan ekosistem alam.

Ekosistem terkait dengan rantai makanan, Misalnya rantai makanan dalam ekosistem sawah; padi dimakan serangga, serangga dimakan kodok, lalu kodok dimakan ular, ular dimakan burung elang dan akhirnya konsumen terakhir akan dimakan oleh bakteri pengurai. Hukum alam menjamin ketersediaan mata rantai makanan secara seimbang sehingga ekosistem terjaga. Termasuk juga rantai makanan yang melibatkan manusia yang satu dengan manusia lainnya. Perlu untuk dijaga keberlangsungannya. Jika ada yang memutus rantai tersebut, Seperti dengan melakukan keserakahan, sehingga manusia lainnya tidak mempunyai akses terhadap makanan itu,  maka berikutnya akan terjadi ketidakseimbangan dan akan menyebabkan bencana sosial yang besar.

Eksploitasi alam cenderung merusak mata rantai makanan secara berlebihan sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem. Pada gilirannya ekosistem yang rusak akan menimbulkan bencana. Menurut Pak Kyai, selama kita tetap menjaga rantai makanan, tidak berlebih-lebihan, tidak serakah, tidak menumpuk numpuk  kekayaan,  keberlangsungan ataupun keseimbangan ekosistem akan tetap lestari untuk kehidupan saat ini dan untuk keberlangsungan hidup anak cucu kita dimasa yang akan datang.

Wallahu a’lam

PSIS

Berita Terkait