{"id":1174,"date":"2024-08-23T05:26:53","date_gmt":"2024-08-23T05:26:53","guid":{"rendered":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/?p=1174"},"modified":"2024-08-23T05:26:53","modified_gmt":"2024-08-23T05:26:53","slug":"tugas-untuk-memperhatikan-lingkungan-hidup-renungan-jumat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/zh\/tugas-untuk-memperhatikan-lingkungan-hidup-renungan-jumat\/","title":{"rendered":"Tugas untuk memperhatikan lingkungan hidup-Renungan Jum&#8217;at"},"content":{"rendered":"<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td>Tugas untuk memperhatikan lingkungan hidup. \u00a0 Di sebuah kampung di pinggir pantai\u2026. Para penduduknya mempunyai cara tersendiri untuk menangkap ikan. Caranya sangat sederhana\u2026 dan mungkin dianggap tradisional banget. Tapi dibalik ketradisionalannya\u2026 mengandung makna yang sangat mendalam. \u00a0 Ketika air laut lagi surut\u2026. Orang orang di kampung tersebut\u2026 meletakkan batu batu besar secara melingkar dengan harapan ketika laut pasang akan ada ikan yang berenang disekitar batu batu tersebut. Dan setelah air laut surut kembali\u2026 maka akan ada beberapa ikan yang terperangkap\u00a0 di lingkaran batu itu. \u00a0 Setiap hari orang orang di kampung itu melakukan aktivitas tersebut untuk memenuhi kebutuhannya sehari hari. Tidak banyak memang ikan yang diperolehnya\u2026 tetapi mereka puas dan bisa mencukupi kebutuhan setiap harinya. \u00a0 Setiap orang hanya membuat satu lingkaran batu, dan ikan yang terperangkap rata rata setiap harinya hanya 2-5 ekor. \u00a0 Jika mereka ditanya kenapa masih mempertahankan cara yang tradisional seperti itu\u2026, kenapa tidak menggunakan jaring, sehingga ikan yang diperolehnya bisa lebih banyak. \u00a0 Mereka akan bilang\u2026 bahwa dengan cara itulah mereka akan tetap menjaga kelangsungan kehidupan, dengan mengambil secukupnya\u2026 maka laut akan tetap terjaga dan akan selalu menyediakan ikan untuk generasi generasi berikutnya. \u00a0 Seorang Petani (sebut saja pak nono) yang sudah berusia senja dengan penuh semangat dan riang membajak sawahnya dengan menggunakan cara tradisional (membajak sawahnya dengan menggunakan sapi). Sesekali pak nono ini berhenti sejenak untuk mengarit rumput di ujung sawah untuk diberikan kepada sapinya. Sambil mengunyah.. sapi ini terus berputar-putar di sawah sesuai dengan kendali pak nono\u2026 sesekali sapinya mengeluarkan kotoran yang kemudian ikut tercampur dalam tanah sawah itu. \u00a0 Ketika pak nono ditanya kenapa membajak sawahnya kok masih pake\u2019 cara tradisional? Kan sudah ada traktor yang lebih modern dan lebih canggih? \u00a0 Pak nono bilang\u2026 kata siapa menggunakan sapi itu tradisional? Justru itu yang lebih canggih\u2026, justru itu yang modern\u2026, justru itu yang ramah lingkungan. \u00a0 Pak nono terus berkomentar\u2026 saya akan tetap menggunakan sapi.., bahan bakarnya banyak didapat dari sekitar sawah (rumput dan berbagai sisa hasil pertanian)\u2026, kotoran dan kencingnya secara alami akan menjadi pupuk yang bermanfaat untuk mempertahankan kesuburan tanah. Harga sapi seiring waktu akan tambah mahal apalagi jika kemudian beranak. Sapi sapi bisa terus beregenerasi, tidak perlu membeli suku cadang\u2026.Dan yang paling penting adalah tidak mencemari lingkungan.  Pak Dar seorang petani kampung yang tetap eksis\u2026 beliau selalu membuat bibit sendiri untuk pertaniannya. Setiap panen beliau selalu menyeleksi beberapa hasil panennya untuk kemudian ditanamnya kembali. \u00a0 Sehingga semakin lama\u2026 seiring berjalannya waktu\u2026 hasil panen pak Dar selalu memuaskan.. karena apa yang ditanamnya merupakan bibit bibit yang terseleksi dari hasil panennya sendiri. \u00a0 Sementara banyak petani lainnya yang tidak sabar dan mungkin terpengaruh oleh iklan iklan dari pabrik pabrik bibit\u2026. Bahwa bibit bibit yang dijualnya adalah hasil dari teknologi canggih yang merupakan hasil rekayasa genetika. \u00a0 Akibatnya banyak para petani lainnya menjadi tergantung pada bibit bibit buatan pabrik\/industri\u2026. Yang kadangkala bibit bibit itu memang sengaja dibuat menjadi infertile (artinya bibit itu ketika ditanam dan menghasilkan panen\u2026 dan kemudian jika ditanam kembali maka tidak akan tumbuh)\u2026 sehingga petani harus terus membeli dan membeli. \u00a0 Selain itu\u2026. karena direkayasa\u2026, maka hasil panennya\u00a0 akan memberikan resiko jangka panjang jika kemudian dikonsumsi oleh manusia karena hasil panennya itu dikenal dengan istilah\u00a0 GMO (Genetically Modified Organisme).\u00a0 Pak Dar juga menggunakan kotoran kambing untuk memupuk tanaman tanamannya. Karena pak Dar meyakini bahwa alam telah menyediakan semuanya termasuk pupuk pupuk tanaman. Dengan sabar dan telaten pak Dar mengolah tanah sawahnya dengan menggunakan kotoran kambing. \u00a0 Kotoran ternak yang kemudian bercampur dengan tanah kaya akan microflora yang mampu memproduksi antibiotics, vitamin, hormon dan macam macam senyawa biogenic\u2026. sehingga tanah menjadi sehat dan subur dan tanaman menjadi tumbuh dengan baik. \u00a0 Sehingga semakin lama, tanah sawahnya semakin berkualitas dan semakin baik untuk keberlangsungan usaha pertaniannya. \u00a0 Sementara petani lainnya\u2026 karena kurang sabar\u2026 selalu mau cepat, dan juga terpengaruh oleh promosi dari pabrik pupuk\u2026, para petani lainnya menggunakan pupuk pupuk kimia. Sehingga semakin lama.. tanah sawahnya semakin mengeras dan semakin buruk kualitasnya\u2026 sehingga menjadi kurang baik untuk keberlangsungan tanah pertaniannya. \u00a0 Sepintas\u2026 penggunaan pupuk pupuk kimia dianggap maju\/canggih\u2026 tapi secara jangka panjang justru akan merusak kondidi tanah. \u00a0 Pak Kyai pernah bilang pada santrinya\u2026. bahwa sebenarnya ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh siapa saja\u2026 bukan semata mats untuk melahirkan teknologi. Tetapi ilmu pengetahuan yang kita pelajari adalah untuk melahirkan pemahaman dan kesadaran akan maksud dari penciptaan. \u00a0 Hidup di jaman sekarang ini seringkali kita terlena\u00a0 oleh teknologi, seringkali kita jugs menjadi korban teknologi. seharusnya semakin orang berpengetahuan\u2026 semakin orang berilmu\u2026 diharapkan semakin sadar untuk hidup selaras dengan alam dan selaras dengan kehendak Pencipta. Tapi seringkali\u2026 pengetahuan justru banyak digunakan untuk kemudian melawan alam dan merekayasa alam. \u00a0 Alam adalah sesuatu yang harus dinikmati keindahannya, keharmonisannya, makna hakikinya. \u00a0 Maka\u00a0 kita diharapkan untuk selalu peduli, selalu memperhatikan ekosistem yang ada di sekitar kita. Untuk peduli pada keseimbangan dan kelestarian dr kehidupan bagi semua makhluk dialam semesta ini. \u00a0 <br>Wallahu a\u2019lam <br>\ud83d\ude4f\ud83d\ude4f\ud83d\ude4f <br>PSIS<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tugas untuk memperhatikan lingkungan hidup. \u00a0 Di sebuah kampung di pinggir pantai\u2026. Para penduduknya mempunyai cara tersendiri untuk menangkap ikan. Caranya sangat sederhana\u2026 dan mungkin dianggap tradisional banget. Tapi dibalik ketradisionalannya\u2026 mengandung makna yang sangat mendalam. \u00a0 Ketika air laut lagi surut\u2026. Orang orang di kampung tersebut\u2026 meletakkan batu batu besar secara melingkar dengan harapan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1175,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[46],"tags":[],"class_list":["post-1174","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1174","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1174"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1174\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1175"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1174"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1174"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psis.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1174"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}